All about Aing

Jumat, 03 Desember 2010

PIAGAM KANDANG SAPI GEDE DAN HARI LAHIRNYA KABUPATEN KARAWANG


Oleh Dicky Mahardika N.

Bila melihat kembali jauh ke belakang, ke masa kerajaaan Tarumanagara hingga lahirnya Kabupaten Karawang, di Jawa Barat berturut-turut berlangsung suatu pemerintahan yang teratur, baik dalam sistem pemerintahan, pusat pemerintahan (ibukota) dan pemegang kekuasaan yang berbeda-beda, seperti Kerajaan Tarumanagara (375-618 M), Kerajaan Sunda (awal abad VIII-XVI), termasuk Kerajaan Galuh, yang memisahkan diri dari Kerajaan Tarumanagara ataupun Kerajaan Sunda pada tahun 671 M, Kesultanan Cirebon (1482 M),  Kerajaan Sumedang Larang (1580-1608), Kerajaan Mataram (1620-1633), danKesultanan Banten (abad XV-XIX)
Sekitar abad XV M, agama Islam masuk ke wilayah Karawang dibawa oleh ulama besar Syeikh Hasanuddin Bin Yusuf Idhofi dari Campa, yang terkenal dengan sebutan Syekh Quro, sebab disamping ilmunya yang tinggi, beliau merupakan seorang Hafidz Alqur’an yang konon mempunyai suara yang sangat merdu. Kemudian agama Islam yang telah Syekh Quro syiarkan, penyebarannya dilanjutkan oleh para wali yang dikenal dengan sebutan wali sanga (ejaan jawa : wali songo).
Pada masa itu, daerah Karawang yang sebagian besar wilayahnya masih merupakan hutan belantara serta daerah yang dikelilingi oleh rawa-rawa. Hal ini pula lah yang menjadi dasar pemberian nama Karawang, yang berasal dari kata Sunda, yaitu Ka-rawa-an yang memiliki arti tempat atau daerah yang berawa-rawa. Bukti lain yang dapat memperkuat statement tersebut adalah selain daerah berawa-rawanya yang juga masih tersisa hingga saat ini, banyak juga tempat di daerah Karawang ini yang penamaannya diawali dengan kata Rawa, seperti Rawasikut, Rawagempol, Rawasari, Rawagede, Rawamerta dan lain-lain.
Keberadaan daerah karawang telah dikenal sejak masa Kerajaan Sunda yang berpusat di Pakuan-Pajajaran (bogor), karena pada masa itu Karawang merupakan satu-satunya jalur lalu lintas yang sangat penting sebagai jalur transportasi hubungan antar dua kerajaan besar, yakni kerajaan Sunda Pajajaran dengan kerajaan Galuh Pakuan yang berpusat di Ciamis. Sumber lain menyebutkan, buku-buku yang pernah dicatat dalam Sejarah Bangsa Portugis (1512-1522) menerangkan bahwa “pelabuhan-pelabuhan penting dari kerajaan Pajajaran adalah Caravan di sekitar muara sungai Citarum”. Yang dimaksud sebagai Caravan dari sumber tadi adalah menerangkan tentang letak daerah Karawang yang memang terletak disekitar sungai citarum.
Kesatuan kafilah-kafilah yang dalam bahasa Portugisnya disebut Caravan yang berada disekitar muara sungai Citarum  yang menjorok hingga ke daerah-daerah pedalamannya, sehingga dikenal dengan sebutan Caravan yang kemudian berubah menjadi Karawang yang berpatokan dari Pakuan-Pajajaran, ada sebuah jalan dari sana yang menjadi acuan jalan menuju daerah-daerah seperti Cileungsi atau Cibarusah, Warunggede, Tanjungpura, Karawang, Cikao, Purwakarta, Rajagaluh, Talaga, Kawali, dan berpusat di kerajaan Galuh-Pakuan.
Luas wilayah Karawang pada saat itu tidak sema dengan luas wilayah Kabupaten Karawang pada saat sekarang. Pada saat itu, luas wilayah Karawang meliputi, Bekasi, Subang, Purwakarta, dan karawang sendiri.

KARAWANG SETELAH RUNTUHNYA  PAJAJARAN
Setelah kerajaan Sunda (Pajajaran) runtuh pada tahun 1579 M, satu tahun setelah itu tepatnya pada tahun 1580 M, berdirilah kerajaan Islam Sumedang Larang sebagai penerus pemerintahan  Pucuk Umun (disebut juga Pangeran Istri) dengan Pangeran Santri yang merupakan keturunan dari Sunan Gunung Jati dari Cirebon.
Kerajaan Islam Sumedang Larang menempatkan pusat pemerintahannya (Kotaraja) di Dayeuh Luhur, dengan membawahi Sumedang, Galuh, Limbangan, Sukakerta dan Karawang.
Setelah Prabu Geusan Ulun wafat pada tahun 1608 M, pemerintahan digantikan oleh putranya yang bernama Rangga Gempol Kusumah Dinata, beliau adalah putra sang Prabu Geusan Ulun dari istrinya yang bernama Harisbaya, keturunan Madura. Pada saat itu, di Jawa Tengah berdiri Kerajaan Mataram dengan rajanya yang bernama Sultan Agung (1613-1645 M). Adapun salah satu dari cita-cita Sultan Agung adalah menguasai seluruh pulau Jawa serta mengusi tentara VOC dari Batavia.

KARAWANG DISERAHKAN KEPADA MATARAM
Sebagai raja Sumedang Larang, Rangga Gempol Kusumah Dinata masih mempunyai hubungan kekeluargaan dengan Sultan Agung sendiri, dan beliau juga mengakui kedaulatan kerajaan Mataram, maka pada tahun 1620 M, beliau menghadap Sultan Agung di Mataram, dan menyerahkan kerajaan Sumedang Larang berada dibawah naungan kerajaan Mataram. Sejak saat itu wilayah kerajaan Sumedang Larang dikenal dengan sebutan Prayangan (Priangan). Kemudian Rangga Gempol diangkat oleh Sultan Agung sebagai Bupati Wedana untuk tanah Sunda , dengan batas-batas wilayah ; disebelah timur dibatasi oleh kali Cipamali, sebelah barat oleh kali Cisadane, sebelah utara oleh Laut Jawa, dan sebelah selatan oleh Laut Kidul.. karena kerajaan Sumedang Larang telah berada dibawah kekuasaan kerajaan Mataram, maka otomatis wilayah Karawang pun berada di bawah kekuasaan Mataram.
Pada tahun 1624 M, Rangga Gempol wafat, beliau dimakamkan di Bembem, Yogyakarta. Sebagai penggantinya, Sultan Agung mengangkat Rangga Gede, putra Prabu Geusan Ulun dari istrinya Nyi Mas Gedeng Waru dari Sumedang, Rangga Gempol II, putra dari Rangga Gempol Kusumah Dinata yang semestinya menerima tahta kerajaan, merasa disisihkan dan sakit hati terhadap Sultan Agung juga Rangga Gede. Kemudian Rangga Gempol II berangkat ke Banten untuk meminta bantuan Sultan Banten agar dapat menaklukan Sumedang Larang, dengan imbalan apabila Sultan Banten berhasil, maka seluruh wilayah kekuasaan Sumedang Larang ini akan diserahkan kepada Sultan Banten. Sejak itu banyak tentara Banten yang dikirim ke Karawang terutama di sepanjang sungai Citarum, dibawah pimpinan Pager Agung dengan bermarkas di Udug-Udug.
Pengiriman bala tentara Banten ke Karawang dilakukan Sultan Banten bukan saja untuk memenuhi permintaan Ranggagempol II, tetapi merupakan awal usaha Banten untuk menguasai Karawang sebagai persiapan merebut kembali pelabuhan Sunda Kelapa yang sebelumnya milik Banten, yang dikuasai oleh VOC.
Masuknya tentara Banten ke Karawang beritanya telah sampai ke Mataram, pada tahun 1624 Sultan Agung mengutus Surengrono (Aria Wirasaba) dari Mojoagung, Jawa Timur, untuk berangkat ke Karawang dengan membawa 1.000 prajurit dan keluarganya, dari mMataram melalui Banyumas dengan tujuan membebaskan Karawang dari pengaruh Banten, mempersiapkan logistik drngan membangun gudang-gudang beras dan meneliti rute penyeberangan Mataram ke Batavia.
Di Banyumas, Aria Wirasaba meninggalkan 300 prajurit dengan keluarganya untuk mempersiapkan logistik dan sebagai penghubung ke ibukota Mataram. Dari Banyumas perjalanan berlanjut melalui jalur utara dengan melewati Tegal, Brebes, Cirebon, Indramayu dan Ciasem (Subang). Di Ciasem ditinggalkan lagi sebanyak 400 prajurit dengan keluarganya, kemudian perjalanan dilanjutkan ke Karawang.
Setibanya di Karawang, dengan sisa 300 prajurit dan keluarganya, Aria Wirasaba mengira bahwa tentar Baten yang bermarkas di Udug-Udug mempunyai pertahanan yang sangat kuat, karena itu perlu diimbangi dengan kekuatan yang memadai pula.
Langkah awal yang dilakukan Aria Wirasaba, mendirikan 3 (tiga) desa yaitu Waringinpitu (Telukjambe), desa Parakan Sapi (di kecamatan Pangkalan) yang sekarang telah terendam Waduk Jatiluhur) dan desa Adiarsa (sekarang termasuk kelurahan di kecamatan Karawang), pusat kekuatan di desa Waringinpitu.
Karena jauh dan sulitnya hubungan antara karawang dengan Mataram, Aria Wirasaba belum sempat melaporkan tugas yang sedang dilaksanakan kepada Sultan Agung. Keadaan ini menjadikan Sultan Agung mempunyai anggapan bahwa tugas yang diberikan kepada Aria Wirasaba gagal dilaksanakan.
Demi menjaga keselamatan wilayah kerajaan Mataram disebelah barat, pada tahun 1628-1629 bala tentara kerajaan Mataram diperintah oleh Sultan Agung untuk melakukan penyerangan terhadap VOC di Batavia, namun serangan ini gagal disebabkan keadaan medan sangat berat, mewabahnya penyakit malaria dan stok pangan yang kian menipis.
Dari kegagalan tersebut Sultan Agung menetapkan daerah Karawang sebagai pusat logistik yang harus mempunyai pemerintahan sendiri dan langsung berada dibawah pengawasan Mataram dan harus dipimpin oleh seorang pemimpin yang cakap dan ahli perang, mampu menggerakkan masyarakat untuk membangun pesawahan guna mendukung pengadaan logistik dalam rangka penyerangan kembali terhadap VOC di Batavia.

PENGANGKATAN SINGAPERBANGSA SEBAGAI BUPATI PERTAMA KARAWANG
Pada tahun 1632, Sultan Agung mengutus kembali Wiraperbangsa dari Galuh dengan membawa 1.000 prajurit dan keluarganya menuju Karawang. Tujuan pasukan yang dipimpin oleh Wiraperbangsa adalah untuk membebaskan Karawang dari pengaruh Banten, mempersiapkan logistik sebagai bahan persiapan melakukan penyerangan kembali terhadap VOC di Batavia sebagaimana halnya tugas yang diberikan kepada Aria Wirasaba yang telah dianggap gagal.
Tugas yang diberikan kepada Wiraperbangsa dapat dilaksanakan sengan baik dan hasilnya dilaporkan kepada Sultan Agung. Atas keberhasilannya, Wiraperbangsa oleh Sultan Agung dianugerahi jabatan wedana (setingkat Bupati) di Karawang dan diberi gelar Adipati Kertabumi III serta diberi hadiah sebilah keris yang bernama Karosinjang. Setelah penganugerahaan gelar tersebut yang dilakukan  di Mataram. Wiraperbangsa bermaksud akan segera kembali ke Karawang, namun sebelumnya Wiraperbangsa singgah dahulu ke Galuh untuk menjenguk keluarganya, namun Wiraperbangsa pun wafat,  Jabatan Bupati di Karawang dilanjutnkan oleh putranya yang bernama Raden Singaperbangsa dengan gelar Adipati Kertabumi IV yang memerintah 1633-1677.
Dalam menjalankan tugasnya, Raden Adipati Singaperbangsa didampingi oleh Aria Wirasaba yang pada waktu itu oleh kompeni disebut sebagai Het Tweede Regent sedangkan Raden Adipati Singaperbangsa sebagai Hoofd Regent.
Tugas pokok yang diemban Raden Adipati Singaperbangsa dalam mengusir VOC dengan mendapat tambahan prajurit sebanyak 2.000 keluarga, serta membangun pesawahan untuk menunjang kebutuhan logistik ketika perang. Hal itu tersurat dalam Pelat Kuningan Kandang Sapi Gede, yaitu Piagam dari Sultan Agung untuk Rangga Gede sebagai piagam pengangkatan Singaperbangsa, isinya adalah sebagai berikut :
“penget ingkang Piagam Kanjeng ing Ki Rangga Gede ing Sumedang kagadehaken ing si Astrawardana. Milane sun gadehi piagem, sun kongkon anggraksa kaagengan dalem siti Nagara Agung, kilen waten Cipamingkis, wetan wates Cilamaya, sirta sun kongkon anunggoni lumbung isinipun Pari Limang takes punjul tiga welas jait.
Widening pari sinambut dening Ki Singaperbangsa. Basakala tan anggrawahani piagem, lagi lampahipan Kyai Yudha-bangsa kaping kalih ki wangsa Taruna. Ingkang potusan Kanjeng Dalem Ambakta tata titi yang kalih ewu; Wadana nipun Kyai Singaperbangsa, kalih ki Wirasaba kang dipunwadanahakeun ing manira.
Sasangpun katampi dipunprenhakeun Waringinpitu lan ing Tanjungpura, anggraksa Siti Gung Bongas Kilen.
Kala nulis piagem ing dina rebo tanggal ping sapuluh sasi Mulud tahun alif. Kang anulis piagem manira anggaprana titi”.

Terjemahan isi piagam tersebut didalam bahasa Indonesia adalah
:
diperingatkan tentang piagam dari Kangjeng (sultan Agung) kepada Ki Ranggagede di Sumedang, yang dititipkan kepada Si Astrawardana. membawa tugas menjaga tanah negara agung. Kaprabon itu sebelah barat berbatas Cipamingkis di sebelah timur berbatas Cilamaya, seterusnya Astrawardana harus menunggu lumbung berisi Padi lima takes lebih tiga belas jahit
. Padi tersebut kemudian harus diangkut oleh Ki Singaperbangsa, bila surat perintahnya sudah diterima. Surat perintah ini harus disampaikan oleh Kyai Yudabangsa dan Ki Wangsataruna yang sekarang dalam tengah perjalanan membawa 2.000 orang. Dimana 2.000 orang itu akan diserahkan di bawah Ki Singaperbangsa dan Ki Wirasaba sebagai Wadana. Keduanya telah diangkat oleh ratu.
Bila surat pengangkatannya sudah datang, mereka harus ditempatkan di Waringinpitu dan di Tanjungpura. Tugasnya adalah menjaga tanah nagara agung di sebelah barat.
Piagam ini ditulis pada hari Rabu tanggal 10 bulan Mulud tahun Alif. Yang menulis piagam ini ialah saya, Anggaprana. Selesai”.

Maksud dari piagam ini adalah :
1.      Memberitahukan tentang tugas Ki Astrawardana
2.      Memberi kabar akan datangnya Kyai Yudabangsa dan Ki Wangsataruna dengan 2.000 orang rakyat.
3.      Perintah Rangga Gede, Bupati Wadana Mataram untuk Tatar Sunda di Sumedang supaya melantik Ki Singaperbangsa dan Ki Wirasaba masing-masing sebagai wadana (Bupati) Nagara Agung (Karawang) dengan batas-batasnya sebelah barat Cipamingkis dan Sebelah timur Cilamaya.

Kekuasaan Singaperbangsa lebih tinggi dari Wirasaba, sehingga pusat pemerintahan yang tadinya dipusatkan di Udug-Udug dipindahkan ke tempat strategis, yaitu Bunut Kertayasa, hasil penelitian Dalem Kanduruan Tambakbaya. Pemerintahan Singaperbangsa di dampingi oleh Singaderepa Kertakumambang dari Galuh.
 Yang tercantum pada angka 1 sampai 3 kiranya sudah terang dan jelas tidak memerlukan lagi keterangan, tetapi angka 4 masih diperlukan penetapan dan perhitungan, tanggal 10 Mulud tahun Alip ini bila dipersamakan dengan tahun Hijriyah atau Masehi jatuh tanggal dan tahun berapa.
Tanggal yang tercantum dalam Piagam Pelat Kuningan Kandang Sapi Gede tersebut, ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Karawang berdasarkan hasil penelitian panitia sejarah Kabupaten Karawang yang ditetapkan dengan SK Bupati Kepala Daerah Tingkat II Karawang Nomor: 170/Pem/H/SK/1968 mengetengahkan beberapa penemuan dan pendapat para ahli sejarah seperti yang tercantum dibawah ini :
1.      Dr. Branders dalam Tyds Taal-Land en Vokenkunde XXVII, hal. 353-355 menetapkan 1633.
2.      Dr. De Haan dalam Priangan III Comentarenbhal. 158, Staten en Tabellen hal. 912, menetapkan 1656.
3.      Dr. Rd. Asikin W.K. dalam Tyds Tall-Land en Volkenkunde XXVII 1937 afl 2, hal. 188-200 (Tyds: Bataviaasch Genotschap dl. 77: 1937 hal. 17-205), menetapkan 1633.
4.      Batu nisan di Makam Panembahan Kyai Singaperbangsa di Manggungjaya Kecamatan Cilamaya tertulis huruf Latin 1633-1677.
5.      Babad Karawang yang ditulis oleh Mas Sutakarya , menulis tahun 1633.

Setelah diperbandingkan tentang tahun Alip ini dengan bandingan sejarah zaman Sultan Agung Mataram (1613-1645), maka perdapat Dr. De Haan tidak tepat jika tahun Alip ini jatuh pada tahun 1656, sebab Sultan Agung wafat sepuluh tahun sebelumnya.

Selain dari perbandingan sejarah, juga panitia menghitung dengan memakai hitungan Hisab dan Kabisatnya, maka tahun Alip itu jatuh pada tahun 1633. Adapun 10 Mulud hari Rabu tahun Alip sama dengan 10 Mulud hari Rabu tahun 1043 H, sama dengan 14 September hari Rabu tahun 1633 M; sama dengan 10 Mulud Rebo Wage tahun 1555 Jawa/Saka.

Kepahlawanan Singaperbangsa dan semangat juang Generasi penerusnya semuanya itu tercermin dalam lambang Kabupaten Karawang yang diatur dengan Perda No.7/Per/DPRD-GR/70 Tanggal 16-5-1970 tentang Lambang Daerah Kabupaten Karawang.



LAMPIRAN

Pelat Kuningan Kandang Sapi Gede
(Piagem dari Sultan Agung Untuk Rangga Gede Sebagai Piagem Pengangkatan Singaperbangsa)
“Penget ingkang Piagam Kanjeng ing Ki Rangga Gede ing Sumedang kagadehaken ing si Astrawardana. Milane sun gadehi piagem, sun kongkon anggraksa kaagengan dalem siti Nagara Agung, kilen waten Cipamingkis, wetan wates Cilamaya, sirta sun kongkon anunggoni lumbung isinipun Pari Limang takes punjul tiga welas jait.
Widening pari sinambut dening Ki Singaperbangsa. Basakala tan anggrawahani piagem, lagi lampahipan Kyai Yudha-bangsa kaping kalih ki wangsa Taruna. Ingkang potusan Kanjeng Dalem Ambakta tata titi yang kalih ewu; Wadana nipun Kyai Singaperbangsa, kalih ki Wirasaba kang dipunwadanahakeun ing manira.
Sasangpun katampi dipunprenhakeun Waringinpitu lan ing Tanjungpura, anggraksa Siti Gung Bongas Kilen.
Kala nulis piagem ing dina rebo tanggal ping sapuluh sasi Mulud tahun alif. Kang anulis piagem manira anggaprana titi”.

Pelat Kuningan Kandang Sapi Leutik
(Piagem dari Singaperbangsa untuk Ki Astrawardana)
“Penget layang ingsun Singaperbagsa, kacekel dening Ki Astrawardana kalayan Ki Wanayuda, mila manira kacekel layang sawiyos manira kang juput pari kagegang Susuhunan kang kagadeh dening Ki Rangga Gede Sumedang lumbung Kalapaduwa, kang tinunggu dening Ki Astrawardanakalih Wanayuda.
Isinekang manira juput pari limang takes punjul tiga welas jait bobot, arwahe Ki Yudabangsa. Titi. Kala nulis ing dina Jumaat tanggal pisan, sai Mukaram taun Alip.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar