All about Aing

Sabtu, 04 Desember 2010

RISE AGAINST (Punten euy, artikelna masih acak-acakan)

Rise Against adalah sebuah band punk rock / melodic hardcore dari Chicago, Illinois,Amerika Serikat yang dibentuk pada tahun 1999. Terdiri dari Tim McIlrath (vokal, gitar), Zach Blair (lead guitar, backing vokal), Joe Principe (gitar bass, backing vocals) dan Brandon Barnes (drum, perkusi).
Rise Against menghabiskan lima tahun pertama menandatangani kontrak dengan label rekaman independen Fat Wreck Chords, di mana ia merilis album studio kedua, The Unraveling (2001) dan Revolutions per Minute (2003). Dengan kesuksesan di label underground, pada tahun 2003 band ini masuk ke major label, Geffen.
Rise Against telah merilis tiga album dari Geffen . dan band ini pun sukses di major label dengan debut album pertamanya Siren Song of the Counter Culture, menghasilkan beberapa single andalan. Album keempatnya, The Sufferer & The Witness mendapat pperingkat di nomor sepuluh di chart 200 Billboard dan memperoleh tanggapan positif dari kritikus musik. Album Studio kelima yaitu Appeal to Reason dirilis pada tanggal 7 Oktober 2008 dan sukses di nomor tiga di chart 200 Billboard. Band ini secara aktif mempromosikan hak-hak hewan dan mereka semua aktif di PETA (People for the Ethical Treatment of Animals) dan semuanya adalah straight edge (kecuali Barnes), dan semua personil dari Rise Against ini adalah vegetarian. Rise Against saat ini seang merekam album studio keenam di Blasting Room, Fort Collins, dan album ini akan dirilis pada tahun 2011.

Fase Independen (1999-2003)

Awalnya dibentuk dengan nama Transistor Revolt pada tahun 1999 oleh mantan anggota band 88 Fingers Louie dan Baxter, lineup pertama terdiri dari Tim McIlrath (vokal), Joe Principe (bass dan vokal),. Toni Tintari (drum), dan Mr Precision (gitar dan vokal). Walaupun band ini belum pernah perform live dengan formasi ini, mereka merilis demo EP berjudul Transistor Revolt pada tahun 2000, setahun sebelum kontrak label dengan Fat Wreck Chords. Tintari resign setelah rekaman EP, dan digantikan oleh Brandon Barnes, dan line up dalam waktu yang singkat dengan Dan Lumley dari Screeching Weasel dan Squirtgun sebagai drummer.

band ini berganti nama menjadi Rise Against pada tahun 2001 dan merilis album pertamanya, The Unraveling (diproduksi oleh produser veteran punk Misa Giorgini) dan masih dirilis oleh Fat Wreck Chords. Mr Precision meninggalkan band pada tahun 2001, dan digantikan oleh Todd Mohney.

Setelah tur promo album, band kembali ke studio pada bulan Desember 2002 untuk menggarap album kedua mereka, Revolutions per Minute (diproduksi oleh Bill Stevenson dan Jason Livermore di blasting room), yang dirilis pada tahun 2003. Band ini melakukan tur dengan Sick Of It All, NOFX, Agnostic Front, No Use For a Name, AFI, dan Strung Out. Selain itu, Rise Against berpartisipasi dalam Warped Tour 2003.


Siren Song of the Counter Culture (2004-2005)

Rise Against masuk ke Dreamworks Records pada Desember 2003 dan merekam album ketiga mereka, Siren Song of the Counter Culture, pada tahun 2004. Dreamworks Records adalah anak dari Universal Music Group, dan Rise Against sendiri adalah orbitan dari Geffen Records, yang juga anak dari Universal Music Group. Tak lama setelah band ini menandatangani kontrak dengan Geffen, Mohney resign dan digantikan oleh gitaris Chris Chasse. Dan album inipun dirilis pada bulan Agustus 2004 oleh Geffen Records. Dalam album ini, selain menjadi band pertama di label major, untuk pertamakalinya mereka menembus Billboard 200 chart dan Mendapatkan gold certificate dari Asosiasi Industri Rekaman Amerika (Recording Industry Association of America atau RIAA). Album ini diterima secara umum dan mendapat kritik positif dari para kritikus musik

The Sufferer & The Witness(2006-2007)

Pada bulan Januari 2006, setelah tur promo album Siren Song of the Counter Culture, Rise Against merilis studio album keempat di studio Blasting Room di Fort Collins, Colorado dengan produser Bill Stevenson dan Jason Livermore, dan Chris Lord-Alge di Burbank, California, The Sufferer & The Witness dirilis pada tanggal 4 Juli 2006. Mendapat peringkat di nomor 10 di chart US Billboard 200, menjual 48.397 kopi dalam minggu pertama lauching album;. Dan akhirnya mendapat gold certificate oleh RIAA pada tahun 2008.

Appeal to Reason (2008–2010)

Rise Against merilis studio album kelima, Appeal to Reason dirilis pada tanggal 4 Oktober di Australia, 6 Oktober di Eropa, dan 7 Oktober di Amerika Serikat. Album ini terjual 64.700 kopi dalam minggu pertama dan memuncak di nomor tiga di Billboard, US 200, membuat album Rise Against meraih chart tertinggi dan disambut dengan komentar yang umumnya positif. Namun ada pula yang mengkritik bahwa album The Sufferer & The Witness ini sifatnya mainstream dan jauh dari kecepatan hardcore punk. Kyle Anderson dari Rolling Stone menyatakan bahwa lagu di Appeal to Reason ini didorong oleh sensibilitas pop.

Pada tanggal 7 September 2010, itu diumumkan di website resmi mereka bahwa Rise Against akan merilis DVD live kedua mereka bertitel   Another Station: Another Mile pada tanggal 5 Oktober 2010. Menurut band DVD ini akan lebih berfokus pada hidup rekaman band, yang belum pernah dirilis dari sebuah film dokumenter, tapi akan menampilkan belakang panggung, tur, dan di rekaman jalan juga.

Album Berikutnya (2010-sekarang)

Pada tanggal 14 Januari 2010, menurut gitaris Zach Blair, Rise Against telah mulai merekam album studio keenam mereka untuk dirilis pada 2011. Pada Rise Against DVD Another Station: Another Mile , ada kemungkinan sampel lagu untuk album mendatang, mereka mainkan sepanjang awal DVD.

Politik dan etik

Semua anggota kelompok ini vegetarian dan pendukung aktif dari PETA, sebuah organisasi hak asasi binatang,video mereka untuk single "Ready to Fall" berisi cuplikan pabrik peternakan, rodeo, dan olahraga berburu, serta penggundulan hutan, pencairan es. topi, dan kebakaran hutan. mereka menilai bahwa video ini yang paling menarik yang pernah dibuat. The Director's Cut video pertama kali dibuat awalnya hanya tersedia untuk situs web PETA. Pada tahun 2009, band ini terpilih sebagai Best Animal-Friendly Band oleh PETA . Selain menjadi vegetarian, semua anggota Rise Against, kecuali drummer Brandon Barnes, adalah straight edge.

Selain dukungan mereka terhadap hak-hak binatang, band ini telah menyuarakan dukungan mereka terhadap penyebab progresif lainnya. Selama Pemilu presiden Amerika Serikat 2004, band ini adalah bagian dari Punkvoter, kelompok aktivis politik, dan muncul di Rock Against Bush Compilation, Vol. 1. Selama pemilihan presiden 2008, anggota band ini mendukung Barack Obama. Dalam sebuah buletin berita di awal 2009, band ini menyatakan: "Few things are more exciting than watching Bush finally release America as his eight year hostage"

Vans "Rise Against" Vegan Edition

Rise Against yang telah di endorse oleh Vans, dan dengan diproduksinya Vans Rise Against Vegan edition, dengan upaya memperhatikan hak-hak hewan". Menanggapi kritik dan desas-desus maraknya penggunaan Vans ' dari sweatshop, Rise Against merilis pernyataan untuk mengatasi masalah ini pada kedua profil MySpace dan website resminya , mereka mengatakan,
“Just a quick note to address a handful of concern that some of you have addressed in regards to the shoe that we've teamed up with VANS to produce. All VANS shoes, including the RISE AGAINST VEGAN shoe are manufactured in factories that follow strict guidelines that are designed to protect the workers involved in this process. The right to fair compensation, the right to associate freely and bargain collectively, the right to work free from discrimination and harassment, and the right to a safe clean workplace are among many of the guidelines that VANS and the factories that produce VANS are committed to. We are proud to work with such a progressive and legendary company.

Style Musik dan Influencenya

Style musik yang mereka bawakan berbeda dengan band-band hardcore punk,melodic hardcore,dan punk rock lainnya. beberapa dari band punk dan hardcore sebagai pengaruh gaya bermusik mereka antara lain Bad Religion, Minor Threat, Black Flag, Dead Kennedys, Pennywise dan Nirvana.



Jumat, 03 Desember 2010

KARTUN PLESETAN SPONGEBOB

















hahaha.... enjoy your watching....!!!

MOSHING




Musik memang dapat mempengaruhi perilaku dan kehidupan seseorang, baik itu positif atau pun negatif. Bahkan tidak sedikit yang akhirnya mengubah pola hidup mereka menjadi sangat ekstrim dan tak terkendali. Namun justru inilah yang menjadi keunikan dari musik. Musik yang seperti ini biasanya musik yang memiliki beat-beat yang kencang, musik yang keras, dan lirik-lirik yang tajam.

Musik yang keras ini memang sering dikonotasikan negatif oleh masyarakat awam. Musik dengan genre seperti punk dan metal ialah beberapa genre musik yang sering mendapatkan cap negatif dari masyarakat. Para pencinta dari musik ini sering melampiasakan ekspresi mereka dengan sebuah tarian yang cukup rusuh dan brutal yang dikenal dengan sebutan moshing.

Moshing sendiri adalah salah satu jenis tarian pada musik punk, metal, hardcore, dan musik-musik chaotic lainnya. Tarian ini biasanya mengandalkan nyali dan kekuatan tubuh untuk mendorong, menjatuhkan dan meniban tubuh orang lain dengan tubuh kita sendiri. Banyak juga yang beranggapan moshing adalah sebuah olah raga yang cukup membakar kalori dan dapat membentuk tubuh kita dengan sendirinya, walaupun memar dan luka-luka yang akan didapatkan. Headbanging, stage diving dan crowd surfing juga merupakan bagian dari moshing.

Moshing yang juga biasa disebut dengan slam dancing yang sempat booming pada tahun 1970-an, dimana musik punk masih memiliki kekuatan yang sangat dahsyat dan tidak dapat tergeserkan oleh apa pun pada saat tersebut, selain itu hardcore punk menyebut tarian ini dengan sebutan ‘pogo’. Pada saat ini, istilah moshing juga mulai melebar lagi hingga meliputi tarian ‘skanking’ dan ‘trash’.

Selain mengenal moshing, para pencinta jenis tarian ini juga memiliki sebutan untuk tempat mereka melakukan tarian tersebut. Jika di club kita mengenal sebutan dance floor, maka pada moshing kita akan menemukan istilah mosh pit atau circle pit. Tidak ada ukuran tertentu dan tempat seperti apa yang layak untuk dijadikan mosh pit, yang jelas diamana pun ada band yang memainkan musik keras dan ada crowd, maka secara otomatis terciptalah sebuah mosh pit. Free! sempat merasakan bagaimana terjebak di mosh pit di setiap gigs. Walaupun memiliki ukuran yang cukup luas namun tetap saja ketika moshing dimulai, tidak ada satu pun yang dapat keluar dari mosh pit. Bahkan untuk menghirup udara saja nampaknya susah. Dua buah water canon juga tidak cukup untuk mendinginkan crowd yang sedang melakukan tarian brutal ini.

memang aliran2 musik2 tersebut sangat memacu adreanlin dan butuh mental dan fisik yang kuat untuk ikut menikmati tarian moshing..

tetapi yg kebanyakan terjadi apa..
terkadang mereka hanya ikut2an menari saja..
hanya untuk mencari eksistensi..

dan apa yg terjadi..??


mungkin bagi yg benar2 penikmat musik tersebut sudah biasa..
tapi bagi yg hanya ikut2an ya seperti itulah akibatnya..

jadi kesimpulanya kalo memang hanya ingin mendengar musiknya saja..
tidak usah ikut2an moshing.

PIAGAM KANDANG SAPI GEDE DAN HARI LAHIRNYA KABUPATEN KARAWANG


Oleh Dicky Mahardika N.

Bila melihat kembali jauh ke belakang, ke masa kerajaaan Tarumanagara hingga lahirnya Kabupaten Karawang, di Jawa Barat berturut-turut berlangsung suatu pemerintahan yang teratur, baik dalam sistem pemerintahan, pusat pemerintahan (ibukota) dan pemegang kekuasaan yang berbeda-beda, seperti Kerajaan Tarumanagara (375-618 M), Kerajaan Sunda (awal abad VIII-XVI), termasuk Kerajaan Galuh, yang memisahkan diri dari Kerajaan Tarumanagara ataupun Kerajaan Sunda pada tahun 671 M, Kesultanan Cirebon (1482 M),  Kerajaan Sumedang Larang (1580-1608), Kerajaan Mataram (1620-1633), danKesultanan Banten (abad XV-XIX)
Sekitar abad XV M, agama Islam masuk ke wilayah Karawang dibawa oleh ulama besar Syeikh Hasanuddin Bin Yusuf Idhofi dari Campa, yang terkenal dengan sebutan Syekh Quro, sebab disamping ilmunya yang tinggi, beliau merupakan seorang Hafidz Alqur’an yang konon mempunyai suara yang sangat merdu. Kemudian agama Islam yang telah Syekh Quro syiarkan, penyebarannya dilanjutkan oleh para wali yang dikenal dengan sebutan wali sanga (ejaan jawa : wali songo).
Pada masa itu, daerah Karawang yang sebagian besar wilayahnya masih merupakan hutan belantara serta daerah yang dikelilingi oleh rawa-rawa. Hal ini pula lah yang menjadi dasar pemberian nama Karawang, yang berasal dari kata Sunda, yaitu Ka-rawa-an yang memiliki arti tempat atau daerah yang berawa-rawa. Bukti lain yang dapat memperkuat statement tersebut adalah selain daerah berawa-rawanya yang juga masih tersisa hingga saat ini, banyak juga tempat di daerah Karawang ini yang penamaannya diawali dengan kata Rawa, seperti Rawasikut, Rawagempol, Rawasari, Rawagede, Rawamerta dan lain-lain.
Keberadaan daerah karawang telah dikenal sejak masa Kerajaan Sunda yang berpusat di Pakuan-Pajajaran (bogor), karena pada masa itu Karawang merupakan satu-satunya jalur lalu lintas yang sangat penting sebagai jalur transportasi hubungan antar dua kerajaan besar, yakni kerajaan Sunda Pajajaran dengan kerajaan Galuh Pakuan yang berpusat di Ciamis. Sumber lain menyebutkan, buku-buku yang pernah dicatat dalam Sejarah Bangsa Portugis (1512-1522) menerangkan bahwa “pelabuhan-pelabuhan penting dari kerajaan Pajajaran adalah Caravan di sekitar muara sungai Citarum”. Yang dimaksud sebagai Caravan dari sumber tadi adalah menerangkan tentang letak daerah Karawang yang memang terletak disekitar sungai citarum.
Kesatuan kafilah-kafilah yang dalam bahasa Portugisnya disebut Caravan yang berada disekitar muara sungai Citarum  yang menjorok hingga ke daerah-daerah pedalamannya, sehingga dikenal dengan sebutan Caravan yang kemudian berubah menjadi Karawang yang berpatokan dari Pakuan-Pajajaran, ada sebuah jalan dari sana yang menjadi acuan jalan menuju daerah-daerah seperti Cileungsi atau Cibarusah, Warunggede, Tanjungpura, Karawang, Cikao, Purwakarta, Rajagaluh, Talaga, Kawali, dan berpusat di kerajaan Galuh-Pakuan.
Luas wilayah Karawang pada saat itu tidak sema dengan luas wilayah Kabupaten Karawang pada saat sekarang. Pada saat itu, luas wilayah Karawang meliputi, Bekasi, Subang, Purwakarta, dan karawang sendiri.

KARAWANG SETELAH RUNTUHNYA  PAJAJARAN
Setelah kerajaan Sunda (Pajajaran) runtuh pada tahun 1579 M, satu tahun setelah itu tepatnya pada tahun 1580 M, berdirilah kerajaan Islam Sumedang Larang sebagai penerus pemerintahan  Pucuk Umun (disebut juga Pangeran Istri) dengan Pangeran Santri yang merupakan keturunan dari Sunan Gunung Jati dari Cirebon.
Kerajaan Islam Sumedang Larang menempatkan pusat pemerintahannya (Kotaraja) di Dayeuh Luhur, dengan membawahi Sumedang, Galuh, Limbangan, Sukakerta dan Karawang.
Setelah Prabu Geusan Ulun wafat pada tahun 1608 M, pemerintahan digantikan oleh putranya yang bernama Rangga Gempol Kusumah Dinata, beliau adalah putra sang Prabu Geusan Ulun dari istrinya yang bernama Harisbaya, keturunan Madura. Pada saat itu, di Jawa Tengah berdiri Kerajaan Mataram dengan rajanya yang bernama Sultan Agung (1613-1645 M). Adapun salah satu dari cita-cita Sultan Agung adalah menguasai seluruh pulau Jawa serta mengusi tentara VOC dari Batavia.

KARAWANG DISERAHKAN KEPADA MATARAM
Sebagai raja Sumedang Larang, Rangga Gempol Kusumah Dinata masih mempunyai hubungan kekeluargaan dengan Sultan Agung sendiri, dan beliau juga mengakui kedaulatan kerajaan Mataram, maka pada tahun 1620 M, beliau menghadap Sultan Agung di Mataram, dan menyerahkan kerajaan Sumedang Larang berada dibawah naungan kerajaan Mataram. Sejak saat itu wilayah kerajaan Sumedang Larang dikenal dengan sebutan Prayangan (Priangan). Kemudian Rangga Gempol diangkat oleh Sultan Agung sebagai Bupati Wedana untuk tanah Sunda , dengan batas-batas wilayah ; disebelah timur dibatasi oleh kali Cipamali, sebelah barat oleh kali Cisadane, sebelah utara oleh Laut Jawa, dan sebelah selatan oleh Laut Kidul.. karena kerajaan Sumedang Larang telah berada dibawah kekuasaan kerajaan Mataram, maka otomatis wilayah Karawang pun berada di bawah kekuasaan Mataram.
Pada tahun 1624 M, Rangga Gempol wafat, beliau dimakamkan di Bembem, Yogyakarta. Sebagai penggantinya, Sultan Agung mengangkat Rangga Gede, putra Prabu Geusan Ulun dari istrinya Nyi Mas Gedeng Waru dari Sumedang, Rangga Gempol II, putra dari Rangga Gempol Kusumah Dinata yang semestinya menerima tahta kerajaan, merasa disisihkan dan sakit hati terhadap Sultan Agung juga Rangga Gede. Kemudian Rangga Gempol II berangkat ke Banten untuk meminta bantuan Sultan Banten agar dapat menaklukan Sumedang Larang, dengan imbalan apabila Sultan Banten berhasil, maka seluruh wilayah kekuasaan Sumedang Larang ini akan diserahkan kepada Sultan Banten. Sejak itu banyak tentara Banten yang dikirim ke Karawang terutama di sepanjang sungai Citarum, dibawah pimpinan Pager Agung dengan bermarkas di Udug-Udug.
Pengiriman bala tentara Banten ke Karawang dilakukan Sultan Banten bukan saja untuk memenuhi permintaan Ranggagempol II, tetapi merupakan awal usaha Banten untuk menguasai Karawang sebagai persiapan merebut kembali pelabuhan Sunda Kelapa yang sebelumnya milik Banten, yang dikuasai oleh VOC.
Masuknya tentara Banten ke Karawang beritanya telah sampai ke Mataram, pada tahun 1624 Sultan Agung mengutus Surengrono (Aria Wirasaba) dari Mojoagung, Jawa Timur, untuk berangkat ke Karawang dengan membawa 1.000 prajurit dan keluarganya, dari mMataram melalui Banyumas dengan tujuan membebaskan Karawang dari pengaruh Banten, mempersiapkan logistik drngan membangun gudang-gudang beras dan meneliti rute penyeberangan Mataram ke Batavia.
Di Banyumas, Aria Wirasaba meninggalkan 300 prajurit dengan keluarganya untuk mempersiapkan logistik dan sebagai penghubung ke ibukota Mataram. Dari Banyumas perjalanan berlanjut melalui jalur utara dengan melewati Tegal, Brebes, Cirebon, Indramayu dan Ciasem (Subang). Di Ciasem ditinggalkan lagi sebanyak 400 prajurit dengan keluarganya, kemudian perjalanan dilanjutkan ke Karawang.
Setibanya di Karawang, dengan sisa 300 prajurit dan keluarganya, Aria Wirasaba mengira bahwa tentar Baten yang bermarkas di Udug-Udug mempunyai pertahanan yang sangat kuat, karena itu perlu diimbangi dengan kekuatan yang memadai pula.
Langkah awal yang dilakukan Aria Wirasaba, mendirikan 3 (tiga) desa yaitu Waringinpitu (Telukjambe), desa Parakan Sapi (di kecamatan Pangkalan) yang sekarang telah terendam Waduk Jatiluhur) dan desa Adiarsa (sekarang termasuk kelurahan di kecamatan Karawang), pusat kekuatan di desa Waringinpitu.
Karena jauh dan sulitnya hubungan antara karawang dengan Mataram, Aria Wirasaba belum sempat melaporkan tugas yang sedang dilaksanakan kepada Sultan Agung. Keadaan ini menjadikan Sultan Agung mempunyai anggapan bahwa tugas yang diberikan kepada Aria Wirasaba gagal dilaksanakan.
Demi menjaga keselamatan wilayah kerajaan Mataram disebelah barat, pada tahun 1628-1629 bala tentara kerajaan Mataram diperintah oleh Sultan Agung untuk melakukan penyerangan terhadap VOC di Batavia, namun serangan ini gagal disebabkan keadaan medan sangat berat, mewabahnya penyakit malaria dan stok pangan yang kian menipis.
Dari kegagalan tersebut Sultan Agung menetapkan daerah Karawang sebagai pusat logistik yang harus mempunyai pemerintahan sendiri dan langsung berada dibawah pengawasan Mataram dan harus dipimpin oleh seorang pemimpin yang cakap dan ahli perang, mampu menggerakkan masyarakat untuk membangun pesawahan guna mendukung pengadaan logistik dalam rangka penyerangan kembali terhadap VOC di Batavia.

PENGANGKATAN SINGAPERBANGSA SEBAGAI BUPATI PERTAMA KARAWANG
Pada tahun 1632, Sultan Agung mengutus kembali Wiraperbangsa dari Galuh dengan membawa 1.000 prajurit dan keluarganya menuju Karawang. Tujuan pasukan yang dipimpin oleh Wiraperbangsa adalah untuk membebaskan Karawang dari pengaruh Banten, mempersiapkan logistik sebagai bahan persiapan melakukan penyerangan kembali terhadap VOC di Batavia sebagaimana halnya tugas yang diberikan kepada Aria Wirasaba yang telah dianggap gagal.
Tugas yang diberikan kepada Wiraperbangsa dapat dilaksanakan sengan baik dan hasilnya dilaporkan kepada Sultan Agung. Atas keberhasilannya, Wiraperbangsa oleh Sultan Agung dianugerahi jabatan wedana (setingkat Bupati) di Karawang dan diberi gelar Adipati Kertabumi III serta diberi hadiah sebilah keris yang bernama Karosinjang. Setelah penganugerahaan gelar tersebut yang dilakukan  di Mataram. Wiraperbangsa bermaksud akan segera kembali ke Karawang, namun sebelumnya Wiraperbangsa singgah dahulu ke Galuh untuk menjenguk keluarganya, namun Wiraperbangsa pun wafat,  Jabatan Bupati di Karawang dilanjutnkan oleh putranya yang bernama Raden Singaperbangsa dengan gelar Adipati Kertabumi IV yang memerintah 1633-1677.
Dalam menjalankan tugasnya, Raden Adipati Singaperbangsa didampingi oleh Aria Wirasaba yang pada waktu itu oleh kompeni disebut sebagai Het Tweede Regent sedangkan Raden Adipati Singaperbangsa sebagai Hoofd Regent.
Tugas pokok yang diemban Raden Adipati Singaperbangsa dalam mengusir VOC dengan mendapat tambahan prajurit sebanyak 2.000 keluarga, serta membangun pesawahan untuk menunjang kebutuhan logistik ketika perang. Hal itu tersurat dalam Pelat Kuningan Kandang Sapi Gede, yaitu Piagam dari Sultan Agung untuk Rangga Gede sebagai piagam pengangkatan Singaperbangsa, isinya adalah sebagai berikut :
“penget ingkang Piagam Kanjeng ing Ki Rangga Gede ing Sumedang kagadehaken ing si Astrawardana. Milane sun gadehi piagem, sun kongkon anggraksa kaagengan dalem siti Nagara Agung, kilen waten Cipamingkis, wetan wates Cilamaya, sirta sun kongkon anunggoni lumbung isinipun Pari Limang takes punjul tiga welas jait.
Widening pari sinambut dening Ki Singaperbangsa. Basakala tan anggrawahani piagem, lagi lampahipan Kyai Yudha-bangsa kaping kalih ki wangsa Taruna. Ingkang potusan Kanjeng Dalem Ambakta tata titi yang kalih ewu; Wadana nipun Kyai Singaperbangsa, kalih ki Wirasaba kang dipunwadanahakeun ing manira.
Sasangpun katampi dipunprenhakeun Waringinpitu lan ing Tanjungpura, anggraksa Siti Gung Bongas Kilen.
Kala nulis piagem ing dina rebo tanggal ping sapuluh sasi Mulud tahun alif. Kang anulis piagem manira anggaprana titi”.

Terjemahan isi piagam tersebut didalam bahasa Indonesia adalah
:
diperingatkan tentang piagam dari Kangjeng (sultan Agung) kepada Ki Ranggagede di Sumedang, yang dititipkan kepada Si Astrawardana. membawa tugas menjaga tanah negara agung. Kaprabon itu sebelah barat berbatas Cipamingkis di sebelah timur berbatas Cilamaya, seterusnya Astrawardana harus menunggu lumbung berisi Padi lima takes lebih tiga belas jahit
. Padi tersebut kemudian harus diangkut oleh Ki Singaperbangsa, bila surat perintahnya sudah diterima. Surat perintah ini harus disampaikan oleh Kyai Yudabangsa dan Ki Wangsataruna yang sekarang dalam tengah perjalanan membawa 2.000 orang. Dimana 2.000 orang itu akan diserahkan di bawah Ki Singaperbangsa dan Ki Wirasaba sebagai Wadana. Keduanya telah diangkat oleh ratu.
Bila surat pengangkatannya sudah datang, mereka harus ditempatkan di Waringinpitu dan di Tanjungpura. Tugasnya adalah menjaga tanah nagara agung di sebelah barat.
Piagam ini ditulis pada hari Rabu tanggal 10 bulan Mulud tahun Alif. Yang menulis piagam ini ialah saya, Anggaprana. Selesai”.

Maksud dari piagam ini adalah :
1.      Memberitahukan tentang tugas Ki Astrawardana
2.      Memberi kabar akan datangnya Kyai Yudabangsa dan Ki Wangsataruna dengan 2.000 orang rakyat.
3.      Perintah Rangga Gede, Bupati Wadana Mataram untuk Tatar Sunda di Sumedang supaya melantik Ki Singaperbangsa dan Ki Wirasaba masing-masing sebagai wadana (Bupati) Nagara Agung (Karawang) dengan batas-batasnya sebelah barat Cipamingkis dan Sebelah timur Cilamaya.

Kekuasaan Singaperbangsa lebih tinggi dari Wirasaba, sehingga pusat pemerintahan yang tadinya dipusatkan di Udug-Udug dipindahkan ke tempat strategis, yaitu Bunut Kertayasa, hasil penelitian Dalem Kanduruan Tambakbaya. Pemerintahan Singaperbangsa di dampingi oleh Singaderepa Kertakumambang dari Galuh.
 Yang tercantum pada angka 1 sampai 3 kiranya sudah terang dan jelas tidak memerlukan lagi keterangan, tetapi angka 4 masih diperlukan penetapan dan perhitungan, tanggal 10 Mulud tahun Alip ini bila dipersamakan dengan tahun Hijriyah atau Masehi jatuh tanggal dan tahun berapa.
Tanggal yang tercantum dalam Piagam Pelat Kuningan Kandang Sapi Gede tersebut, ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Karawang berdasarkan hasil penelitian panitia sejarah Kabupaten Karawang yang ditetapkan dengan SK Bupati Kepala Daerah Tingkat II Karawang Nomor: 170/Pem/H/SK/1968 mengetengahkan beberapa penemuan dan pendapat para ahli sejarah seperti yang tercantum dibawah ini :
1.      Dr. Branders dalam Tyds Taal-Land en Vokenkunde XXVII, hal. 353-355 menetapkan 1633.
2.      Dr. De Haan dalam Priangan III Comentarenbhal. 158, Staten en Tabellen hal. 912, menetapkan 1656.
3.      Dr. Rd. Asikin W.K. dalam Tyds Tall-Land en Volkenkunde XXVII 1937 afl 2, hal. 188-200 (Tyds: Bataviaasch Genotschap dl. 77: 1937 hal. 17-205), menetapkan 1633.
4.      Batu nisan di Makam Panembahan Kyai Singaperbangsa di Manggungjaya Kecamatan Cilamaya tertulis huruf Latin 1633-1677.
5.      Babad Karawang yang ditulis oleh Mas Sutakarya , menulis tahun 1633.

Setelah diperbandingkan tentang tahun Alip ini dengan bandingan sejarah zaman Sultan Agung Mataram (1613-1645), maka perdapat Dr. De Haan tidak tepat jika tahun Alip ini jatuh pada tahun 1656, sebab Sultan Agung wafat sepuluh tahun sebelumnya.

Selain dari perbandingan sejarah, juga panitia menghitung dengan memakai hitungan Hisab dan Kabisatnya, maka tahun Alip itu jatuh pada tahun 1633. Adapun 10 Mulud hari Rabu tahun Alip sama dengan 10 Mulud hari Rabu tahun 1043 H, sama dengan 14 September hari Rabu tahun 1633 M; sama dengan 10 Mulud Rebo Wage tahun 1555 Jawa/Saka.

Kepahlawanan Singaperbangsa dan semangat juang Generasi penerusnya semuanya itu tercermin dalam lambang Kabupaten Karawang yang diatur dengan Perda No.7/Per/DPRD-GR/70 Tanggal 16-5-1970 tentang Lambang Daerah Kabupaten Karawang.



LAMPIRAN

Pelat Kuningan Kandang Sapi Gede
(Piagem dari Sultan Agung Untuk Rangga Gede Sebagai Piagem Pengangkatan Singaperbangsa)
“Penget ingkang Piagam Kanjeng ing Ki Rangga Gede ing Sumedang kagadehaken ing si Astrawardana. Milane sun gadehi piagem, sun kongkon anggraksa kaagengan dalem siti Nagara Agung, kilen waten Cipamingkis, wetan wates Cilamaya, sirta sun kongkon anunggoni lumbung isinipun Pari Limang takes punjul tiga welas jait.
Widening pari sinambut dening Ki Singaperbangsa. Basakala tan anggrawahani piagem, lagi lampahipan Kyai Yudha-bangsa kaping kalih ki wangsa Taruna. Ingkang potusan Kanjeng Dalem Ambakta tata titi yang kalih ewu; Wadana nipun Kyai Singaperbangsa, kalih ki Wirasaba kang dipunwadanahakeun ing manira.
Sasangpun katampi dipunprenhakeun Waringinpitu lan ing Tanjungpura, anggraksa Siti Gung Bongas Kilen.
Kala nulis piagem ing dina rebo tanggal ping sapuluh sasi Mulud tahun alif. Kang anulis piagem manira anggaprana titi”.

Pelat Kuningan Kandang Sapi Leutik
(Piagem dari Singaperbangsa untuk Ki Astrawardana)
“Penget layang ingsun Singaperbagsa, kacekel dening Ki Astrawardana kalayan Ki Wanayuda, mila manira kacekel layang sawiyos manira kang juput pari kagegang Susuhunan kang kagadeh dening Ki Rangga Gede Sumedang lumbung Kalapaduwa, kang tinunggu dening Ki Astrawardanakalih Wanayuda.
Isinekang manira juput pari limang takes punjul tiga welas jait bobot, arwahe Ki Yudabangsa. Titi. Kala nulis ing dina Jumaat tanggal pisan, sai Mukaram taun Alip.